Masjid Nuha – “Sesungguhnya pemuda itu ialah yang berani berkata ‘inilah diriku’, dan bukanlah pemuda itu yang berkata ‘inilah ayahku’” —- Sayyidina Ali bin Abi Thalib
“Berikan aku sepuluh orang pemuda, maka akan kuguncang dunia” — Bung Karno

SABTU, 20 Juni 2026, bakda Shubuh hingga waktu syuruq, belasan anak-anak dan remaja berkumpul serambi Masjid Nurul Huda. Pagi itu, mereka, untuk pertama kali, akan melakukan kunjungan atau yang kami namakan Safari Muharram 1448 H ke Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi Jawa Barat.
Setelah sarapan bersama dan pelepasan oleh Ketua RW. 09 Permata Banjar Asri, Abdul Jalla Suhaemi, dengan didampingi sejumlah pengurus DKM Jami Nurul Huda, 13 anak dan remaja itu memulai sebuah perjalanan, yang mungkin kelak, akan menjadi salah satu jejak sejarah dalam perjalanan hidup mereka.
Mengapa anak-anak dan remaja? Begitu mungkin yang ada dalam sebagian benak jemaah. Pertanyaan ini yang menjadi asbabun nuzul dari Safari Muharram 1448 H tersebut.
Sebelum lanjut membaca catatan perjalanan ini, siapkan seduhan kopinya lur untuk diseruput biar tambah semangat.
Masjid tak menarik
Dari sekian yang membikin gundah, dari beberapa obrolan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Nurul Huda di serambi masjid, yakni bayang-bayang, masjid yang tidak menarik kalangan anak-anak dan remaja.
Salah satu kritiknya, mungkin karena program masjid yang tidak menarik kalangan anak-anak dan remaja. Sudah cukup lama, tidak ada kegiatan yang dimotori anak-anak, remaja dan pemuda. Pendek kata, ada jarak diantara anak-anak dan remaja dengan masjid.
Kritik ibarat pil, obat atas penyakit kita. Maka dari itu, dengan dimotori salah satu pengurus, dilakukan pendekatan kepada anak-anak dan remaja.
Setelah dipetakan setidaknya ada 3 kelompok anak-anak dan remaja yang memiliki kedekatan hobi, dalam istilah sosiologi disebut ini group, yang kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok anak-anak dan remaja Masjid Nurul Huda.
Yakni kelompok Remaja Masjid Nurul Huda, disingkat Jamrud, kemudian Para Pecinta Masjid (PPM) dan Anak Masjid Nurul Huda (Amind). Usia mereka yakni 10-15 tahun atau kelahiran 2010-2015 atau yang dikenal sebagai generasi Alpha, kalangan anak remaja yang hidup di tengah kemajuan teknologi digital berbasis artificial intelegensi (AI).
Tiga kelompok ini secara perlahan dilakukan pembinaan, dengan pendekatan pada sisi kebiasaan bermain dan hobi yang sama. Sebagian besar, mereka hobi bermain futsal.
Tapi bukan hanya itu, mereka juga ada yang dibiasakan untuk terlibat dalam masjid seperti mengumandangkan azan dan iqamah, serta relawan dalam pengumpulan infak dan sedekah.
Untuk menguatkan mereka, pada beberapa bulan yang lalu, kami menggelar turnamen mini futsal di lapangan Graha RW. Mereka sangat antusias dan makin menguatkan kami, menarik mereka secara perlahan dekat dengan masjid.
Ketika mengetahui Masjid Sejuta Pemuda yang viral, kami kemudian merencanakan untuk melakukan kunjungan dengan melibatkan anak-anak dan remaja. Dan kami memasukan agenda pemikat mereka dengan pertandingan persahabatan futsal dalam agenda kunjungan ke Masjid Sejuta Pemuda.
Mereka pun antusias. Safari Muharram 1448 H bagian dari mengenalkan mereka pada nilai-nilai Islam. Seperti sholat dalam perjalanan berupa sholat jamak dan qashar.

Titik lokasi kunjungan kami yang pertama di Sukabumi yakni Taman MacaTongsir. Kami diterima oleh pengasuh Taman MacaTongsir yakni Roni Fardiansyah. Taman Baca MacaTongsir salah satu binaan anggota DPR RI Desy Ratnasari.
Di Taman Bacaan ini kami mengajak anak dan remaja mengenal manfaat membaca. Menurut Roni, di tengah dunia digital, Taman Bacaan masih memiliki peranan penting dalam literasi. Pihak Taman Bacaan MacaTongsir memberikan masing-masing satu buku bacaan gratis. Selain juga setumpuk buku yang disumbangkan untuk Masjid Nurul Huda sebagai cikal bakal Perpustakaan Masjid.
Selepas mengerjakan sholat jamak qashar, anak-anak dan remaja kami bawa pada pertandingan persahabatan futsal di lapangan futsal Sukaraja.
Mereka sangat antusias karena menjadi pengalaman pertama mereka melakukan pertandingan futsal di luar Banten. Usai dari futsal, mereka dibawa sejenak untuk berendam air sejuk di Pemandian Puloair.
Masjid Sejuta Pemuda
Tibalah pada tujuan terakhir Safari Muharram yakni di Masjid Sejuta Pemuda. Kami tiba sekitar pukul 17.15 WIB dan disambut pengurus DKM Sejuta Pemuda yang semuanya berusia di bawah 27 tahun.

Sembari menunggu waktu Sholat Magrib, kami melihat sejumlah unit usaha Masjid Sejuta Pemuda. Seperti unit minimarket, kafe, ruang pertemuan, konter-konter fundrising
Setelah Sholat Magrib dan zikir, takmir masjid mengumumkan kepada jema’ah menikmati hidangan makan malam gratis di ruang pertemuan.
Kami kemudian diterima Ketua DKM Sejuta Pemuda Zainuddin di ruang rapat. Pemuda ini dengan senang hati menyampaikan informasi seputar perjalanan Masjid Sejuta Pemuda yang didirikan sejak 9 Maret 2024. Nama Sejuta Pemuda sebagai doa masjid ini gerakan oleh jutaan pemuda.
Masjid Sejuta Pemuda terus mengalami perluasan lahan wakaf yangg awalnya hanya 2.800 m2 kini sudah mencapai 1,3 hektare dengan jumlah 90 orang pengurus dan puluhan marbot.
Ubah pandangan marbot
Salah satu kemajuan Masjid Sejuta Pemuda yakni menempatkan marbot tidak dipandang ngurusi kebersihan, azan dan iqamah, tetapi diperluas pengertian marbot sebagai penggerak masjid dengan sejumlah karya.
Marbot-marbot ini berkarya dalam berbagai bidang seperti unit usaha, fundrising, media, pendidikan dan lainnya.
Para marbot Masjid Sejuta Pemuda dilakukan pembinaan rutin, sedangkan pengurus masjid harus berasal dari akademi masjid.
Para marbot masjid diajari fiqh masjid, sirah masjid, public speaking, mengelola media, menangani even organizer dan sebagainya.
Zainuddin mengungkapkan tiga pilar utama Masjid Sejuta Pemuda yakni mengetahui ilmu mengelola masjid, memiliki tim yang solid dan memiliki otoritas.
Sosok utama pilar pengelola masjid ini yakni donatur utama yang memiliki semangat dan komitmen penuh dalam menopang pengembangan masjid.
Pilar kedua, masjid harus dikelola oleh tim yang solid, memiliki visi misi dan semangat dan orientasi yang sama. Sedangkan yang ketiga yang tak kalah penting yakni memiliki otoritas penuh dalam mengelola dan mengembangkan masjid. Tidak ada intervensi dari pihak manapun dalam pelaksanaan program masjid.
Dalam pengelolaan masjid, Masjid Sejuta Pemuda di bawah Yayasan Amanah Sejuta Masjid. Kini, Masjid Sejuta Pemuda jumlah jemaah pada shalat Jumat sudah mencapai ribuan.
Yang menarik juga, Masjid Sejuta Pemuda yakni menerapkan dakwah digital melalui aplikasi berbasis AI dan cukup menarik remaja.
Sebuah harapan
Dari Safari Muharram 1448 H, setidaknya ada sebuah harapan untuk diterapkan di Masjid Nurul Huda. Pertama, yakni perlunya donatur utama bisa perorangan maupun kelompok sebagai penggerak utama untuk program masjid dengan basis utama wakaf produktif.
Kedua, mengubah mindset fungsi marbot menjadi lebih luas ke tenaga kreatif dan inovatif, serta punya kepengurusan yang solid, terutama kalangan pemuda, untuk menggerakkan roda organisasi.
Tagar Masjid Sejuta Pemuda yakni Peradaban Besar Dimulai dari Masjid sengat inspiratif dan menyasar jemaah tidak sebatas yang datang ke masjid tetapi juga kalangan yang peduli program masjid, bisa di ruang-ruang digital.
Ketiga, menciptakan sistem pengelolaan masjid tidak didasarkan kepada ketokohan tetapi pada sistem manajerial yang solid, transparan, inovatif, dengan jenjang pengetahuan dan pengalaman yang terukur.
Tentu dalam prakteknya, butuh keberanian untuk memulai hal-hal yang baru dan maju, karena setiap zaman akan menghadapi tantangan yang berbeda.

Sebagai pengurus masjid kami dituntut untuk terus rendah hati, karena pada dasarnya kami adalah pelayan jemaah, pelayan rumah Allah.
Pulang dari kunjungan ke Masjid Sejuta Pemuda, kami ingin berikhtiar maksimal dalam memakmurkan masjid seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT, dari 13 anak dan remaja yang kami bawa, mudah-mudahan, minimal ada dari mereka kelak menjadi penggerak semangat pemuda dalam menggerakkan masjid sebagai pusat peradaban besar.
Niat kami agar remaja memulai jejak sejarah dari masjid. Masjid Nurul Huda, sebagaimana maknanya cahaya petunjuk, akan senantiasa menerangi kehidupan masyarakat, dengan motor penggerak anak-anak muda yang memiliki mimpi-mimpi besar, sesuai dengan tantangan zamannya.
Estafeta kepemimpinan masjid pasti terus berubah, tetapi dengan semangat sama membangun peradaban besar dan mulia, memberikan kemaslahatan masyarakat.
Akhirul kalam, bagi pembaca yang ingin menyampaikan gagasan untuk kemajuan Masjid Nurul Huda, silakan sampaikan ya….***
Salam ta’zim kami
Maksuni Husen, Syaeful Ma’ruf, Imam Widia Muslim dan Budhy Viphiyana
Ahad, 21 Juni 2026
